Search Results
DP
Inormaz
at Apr 20, 2014 10:59:37 AM
#TheUnbeatenTeamEver
[*perhaps in Europe only]
*CMIIW
Hero
Cuma sekedar berbagi pengetahuan, berikut
adalah Club Eropa dengan Unbeaten Terpanjang

HAMBURG SV - 36 Laga Unbeaten
16 Januari 1982 - 29 Januari 1983
Generasi emas Hamburg di awal dekade 80-an
sempat mengguncang Eropa dengan menorehkan
36 laga tak terkalahkan. Di bawah arahan pelatih
legendaris Austria Ernst Happel, Hamburg yang
dimotori Felix Magath, Lars Bastrup, dan Allan
Hansen menjelma menjadi kekuatan yang
mengerikan di Jerman.

REAL SOCIEDAD - 38 Laga Unbeaten
29 April 1979 - 4 Mei 1980
Pelatih Alberto Ormaetxea pernah membawa Real
Sociedad mencatatkan rekor unbeaten impresif
dalam 38 laga beruntun di akhir dekade 70-an,
ironisnya mereka gagal menjuarai liga pada
musim tersebut. Namun La Real membayar
tuntas rasa penasaran mereka dengan meraih
gelar juara La Liga dua musim berikutnya.

CHELSEA - 40 Laga Unbeaten
23 Oktober 2004 - 6 November 2005
Di musim perdananya menangani Chelsea, Jose
Mourinho langsung memberikan bukti bahwa ia
memang The Special One. Mewarisi skuat
Claudio Ranieri dan mendapatkan dukungan
penuh dari Owner Roman Abramovich, The Blues
melaju 40 laga tak terkalahkan pada periode
2004 sampai 2005

FIORENTINA - 40 Laga Unbeaten
La Viola meraih Scudetto pertama mereka di
tahun 1956 berkat penampilan super tim yang
dipimpin Fulvio Bernardini. Mengandalkan duet
bomber Amerika Latin, Miguel Montuori dan
Julinho, Fiorentina mampu mencatatkan 40 laga
tak terkalahkan sekaligus menyelesaikan
kompetisi dengan unggul 12 poin dari AC Milan
di posisi kedua.

NOTTINGHAM FORREST - 42 Laga Unbeaten
26 November 1977 - 9 Desember 1978
Saat mencatatkan 42 laga unbeaten pada periode
1977-1978, Forest memenangkan satu-satunya
gelar juara Liga Inggris dalam sejarah klub.
Manajer legendaris Brian Clough mampu meracik
Forest yang berstatus sebagai tim promosi
menjadi kampiun sekaligus mengorbitkan
sejumlah nama tenar seperti Peter Shilton, Viv
Anderson, Martin O'Neill, dan Gary Birtles.

ARSENAL- 49 Laga Unbeaten
7 Mei 2003 - 24 Oktober 2004
Skuat Arsenal yang melaju 49 laga tak
terkalahkan dikenang sebagai The Invincibles,
salah satu tim terbaik di era Premier League.
Arsene Wenger mampu meracik tim yang sangat
atraktif dan mampu memenangkan pertandingan
dengan indah. Pada era ini sejumlah legenda klub
bermain bersama, seperti Thierry Henry, Dennis
Bergkamp, dan Patrick Viera.

JUVENTUS 49 Laga Unbeaten
15 Mei 2011 - 3 November 2012
Pelatih minim pengalaman Antonio Conte di luar
dugaan mampu menyulap Juventus yang
merupakan tim kuda hitam menjadi skuat yang
dominan di Serie A. Bianconeri yang finish di
urutan tujuh selama dua musim beruntun
berubah menjadi tim yang menjuarai Scudetto
dua musim berturut-turut, dengan catatan apik
49 laga di musim pertama Conte memimpin.

AJAX- 52 Laga Unbeaten
28 Agustus 1994 - 14 Januari 1996
Salah satu generasi terbaik Ajax Amsterdam
mencatatkan tinta emas dalam sejarah sepakbola
dunia pada periode 1994 sampai 1996. Ditangani
oleh pelatih bertangan dingin, Louis Van Gaal,
pasukan muda Der Amsterdammers mampu
mencatatkan 52 laga tak terkalahkan. Sejumlah
legenda Timnas Belanda memperkuat Ajax kala
itu, sebut saja Danny Blind, De Boer bersaudara,
Michael Reiziger, Edgar Davids, Clarence
Seedorf, Patrick Kluivert, Marc Overmars, dan
Edwin van der Sar.

PORTO - 52 Laga Unbeaten
29 Januari 2012 - 30 November 2013
Vitor Pereira memang hanya dua musim
membesut Porto, namun ia berhasil menjuarai
Liga Portugal dua kali berturutan. Tak hanya itu,
ia juga meramu skuat yang diperkuat oleh
pemain sekaliber Hulk, James Rodriguez, dan
Joao Moutinho menjadi tim yang dominan di
Portugal dengan total 52 laga tak terkalahkan.

BAYERN MUNCHEN - 53 Laga Unbeaten
28 Oktober 2012 - 5 April 2014
Meneruskan tongkat estafet kepelatihan dari
Jupp Heynckess, Josep Guardiola membawa
Bayern Munich menjadi kekuatan tunggal di
Jerman. Generasi emas Die Roten sebenarnya
berpeluang besar untuk memecahkan rekor
unbeaten terpanjang di Eropa, namun kebijakan
rotasi setelah tim memastikan gelar juara
Bundesliga berujung pada kekalahan mengejutkan
0-1 dari Augsburg akhir pekan lalu.

PORTO- 55 Laga Unbeaten
28 Februari 2010 - 29 Januari 2012
Andre Villas-Boas mulai dikenal sebagai pelatih
muda jenius saat menukangi Porto. Ia
membangun pondasi tim yang kuat dengan
menjadikan Radamel Falcao sebagai ujung
tombak utama. Hasilnya, Porto tak tersentuh
kekalahan sama sekali di musim 2010-11.
Catatan tersebut sempat diperpanjang selama
setengah musim oleh suksesornya, Vitor Pereira.

BENFICA - 56 Laga Unbeaten
24 Oktober 1976 - 1 September 1978
Kehadiran pelatih asal Inggris, John Mortimore
membawa dampak masif bagi Benfica. Mereka
berhasil melaju tak terkalahkan dalam 56 laga.
Menjadi juara di musim 1976-77, Benfica harus
menelan pil pahit di musim selanjutnya setelah
harus puas berada di posisi runner up di bawah
Porto. Musim itu mereka tak terkalahkan
sementara Porto mengalami satu kekalahan,
namun jumlah poin merka sama-sama 51 poin
dan Benfica harus merelakan gelar juara karena
kalah produktivitas gol.

AC MILAN - 58 Laga Unbeaten
26 Maret 1991 - 21 Maret 1993
Berangkat dengan pengalaman melatih yang
masih nol, Fabio Capello di luar dugaan mampu
membawa Milan sebagai tim dengan catatan 58
laga unbeaten yang terbentang dalam dua tahun.
Lini belakang Milan saat itu disesaki difensore
legendaris seperti Franco Baresi, Paolo Maldini,
Mauro Tassotti, dan Frank Rijkaard. Di lini tengah
bercokol nama handal seperti Demetrio Albertini,
Dejan Savicevic, Roberto Donadoni, Ruud Gullit,
dan Zvominir Boban. Sementara lini depan
mereka diisi pemain kelas wahid macam Marco
Van Basten, Daniele Massaro, Marco Simone,
dan Jean-Pierre Papin
Skuat Gli Invicibili tercatat sebagai tim dengan
rekor unbeaten terlama sampai saat ini.
DP
Samuel Theodorus shared Rakdjat Bergerak's photo.
at Apr 19, 2014 11:11:21 AM
Mari Lawan #longlast rebellion
Photos from Rakdjat Bergerak's post in KontraS
Photo: W.Thukul-M.Pon - RS Dr. Yap - Jogjakarta, April 1996
Momentum tak terlupakan, seusai operasi mata akibat pukulan popor senjata militer dlm aksi buruh pabrik Sritex di Solo (Mira Kusuma)

==================================================

Penulis: Lilik Hastuti
Ada banyak pintu mengenali Wiji Thukul. Pergaulan dan pengetahuannya sangat luas. Dia dekat dengan banyak kelompok. Ia milik banyak orang. Semua aktivis 80-90an, kenal Wiji Thukul. Kawan-kawanya mulai buruh, seniman, akademisi sekelas Arif Budiman, Jaap Erkelens (pimpinan KITLV Jakarta), Romo Mangun Wijaya, termasuk tiga orang dari banyak sahabatnya. Sosiolog Arief Budiman yang memberi kata pengantar di buku pertama: Mencari Tanah Lapang, 1994. Waktu Arief masih menjadi dosen di UKSW Salatiga, Wiji Thukul kerap mampir.

Jika Chairil Anwar masyhur dengan mantra “Aku ingin hidup seribu tahun lagi !” Ia mati muda di usia 26. Maka Wiji Thukul tersohor dengan “Hanya Ada Satu Kata: Lawan!” Dan dia hilang karena benar-benar MELAWAN !

Sajak Peringatan ditulis tahun 1986 saat Soeharto gagah perkasa. Jadi mantra aksi-aksi mahasiswa. 3 sajak Wiji Thukul yang seperti wajib dibawakan: Peringatan, Sajak Suara, Bunga dan Tembok

Kata, Wahyu Susilo, adik kandung Wiji Thukul, tiap hari bapaknya sisihkan uang hasil narik becak, untuk beli koran. Alhasil, sejak kecil mereka berdua keranjingan baca. Wiji Thukul menulis puisi sejak SD. Ikut teater sejak SMP. Sekolah terakhir klas 2 SMKI. Selain tak betah, bapaknya juga tak kuat bayar

Thukul lalu kerja jadi tukang pelitur dan calo bioskop. "Waktu film Rhoma Irama sedang laku-lakunya di kampung, aku jadi kaya,". Di tempat pelitur Wiji Thukul bikin puisi. Tentang tetangga yang melarat, buruh di-PHK, aparat sewenang-wenang. Ia ingin kawan-kawannya tergugah dan tak mudah dibodohi.

Lalu Wiji Thukul bikin sanggar. Mereka ngamen keliling kota, keliling dusun-dusun. Bawa alat musik sederhana sambil nyanyi dan baca puisi. Ia pernah ngamen seorang diri. Wiji Thukul datangi restoran-restoran, membacakan puisinya. Orang-orang melotot kaget. Pasti ia disangka stress atau gila. Ia terinspirasi konsep teater Augusto Boal dari Brazil, yang di tahun 1960an menjadikan teater sebagai alat pengorganisiran dari kampung ke kampung. Kata-kata Bertold Brecht, yang sering dikutip Wiji Thukul : “Setiap orang adalah seniman dan setiap tempat adalah panggung.” Thukul praktikan itu.

Wiji Thukul juga pernah belajar bikin puisi ‘yang baik” ala Majalah Horisan dan dari Soetarji C. Bachri. Kalimat dibagus-baguskan tapi setekah itu ia merasa bukan karakternya. Ia balik ke khasnya: Di sini terbaring Mbok Cip yang mati di rumah/ karena ke rumah sakit tak ada biaya - Puisi Kuburan Purwoloyo. Apakah nasib kita akan seperti sepeda rongsokan karatan itu?/ o, tidak, dik!/ Kita harus membaca lagi agar bisa menuliskan isi kepala/ dan memahami dunia - Puisi Untuk Adik.

Tahun 1992, Wiji Thukul memimpin tetangga-tetangganya protes pencemaran pabrik tekstil PT Sari Warna yang cemari kampungnya. Untuk pertama kali ia diseret ke Polres

Tahun 1987, sastrawan Halim HD mengajak Wiji Thukul pentas di TIM. Pergaulan dengan seniman meluas, juga aktivis. Ia ikut aksi Kedungombo. Puisinya makin populer. Wiji Thukul banyak baca dan rajin ikut diskusi. Ia tak cuma lihai mengolah kata. Ia paham problem pokok masyarakat. Ia belajar sangat serius. Ia kuat membaca. Ia pembelajar segalanya, termasuk komputer yang waktu itu para aktivis mahasiswa cuma tahu Wordstar, tapi Wiji Thukul sudah belajar desain dan ngoprek.

Wiji Thukul salah satu pendiri PRD sejak Persatuan Rakyat Demokratik 1994. Ia jadi pemateri untuk sebuah acara bernama: Pertemuan Kebudayaan Nasional. Setelah acara itu Wiji Thukul ditugaskan di Jakker : Jaringan Kerja Kebudayaa Rakyat, bersama Linda Chistanty dan Raharja Waluyo Jati, AJ. Susmana, Nining dll.

Wiji Thukul bikin Sanggar Suka Banjir di Jagalan Solo yang mengajari anak-anak kampung melukis, menulis puisi, teater, nyanyi, mengajari mereka bersikap kritis. Bersama Jakker, ia bikin panggung kesenian rakyat di basis-basis tani STN/PRD, di Ngawi, Yogya. Tapi pas pentas, dibubarin.

Wiji Thukul tak cuma piawai bikin puisi, ia turut rumuskan program, strategi dan taktis, AD/ART PRD. Seingatku, Manifesto PRD dengan prolog dahsyat "Tak Ada Demokrasi di Indonesia, adalah salah satu kalimat yang diedit Wiji Thukul

Bulan Desember 1995 aksi buruh Sritex dipukul habis. Wiji Thukul sembunyi di rumah penduduk. Naas, ia tertangkap, babak belur dipukul hingga matanya nyaris buta sebelah. Aksi terus meninggi setelah tahun 1996, aksi dukung Mega, Makassar Berdarah, juga persiapan Kongres PRD dan ormas-ormas.

Di Bulan Agustus 1995, Sanggar Suka Banjir yang didirikan Wiji Thukul bikin Perayaan 50 Tahun Indonesia Cemas. Acara itu diserbu tentara. Panggung dirusak. Lukisan-lukisan diangkut ke truk. Saya ingat benar adegan itu. Trontong, anak-anak sanggar itu terdiam ketakutan. Fitri Nganthi Wani, putri Wiji Thukul histeris terus pertahankan lukisan miliknya.
Di depan polisi yang datang satu truk, Wiji Thukul masih baca puisi, lalu berdebat, lalu digelandang. Ia terus baca puisi. Teruss!!

Pukulan 27 Juli 96, semua aktivis PRD diburu. Wiji Thukul sembunyi, terakhir di Kalimantan. Rumahnya digrebek. Buku-bukunya diangkut tentara. Dari persembunyian Wiji Thukul menulis puisi. Menyebar lewat milis Apakabar. ”Aku masih ada. Dan kata-kata belum binasa!” Thukul belum menyerah!

Harusnya September 1996, adalah Kongres Jakker. Panitia sudah siap. Rontok setelah peristiwa Kudatuli. Saat saya membaca notulensi rapat persiapan Jakker, sudah dirancang bikin terbitan Suluh, akan terbit 30 Agustus 1996, Pemrednya Nining. Kongres itu tak pernah terjadi. Diagendakan pula, acara Jaker: Pembacaan Puisi Wiji Thukul di Solo dan Pentas Sastra Merdeka di Semarang. Tak pernah terjadi.

Tahun 1997 Wiji Thukul kembali ke Jakarta, bergabung dengan kawan-kawannya. Dia mengorganisir buruh dan PDI pro Mega di Tangerang.

Maret 1998. Sejumlah aktivis dari PRD, PDI pro Mega, PPP dll. Wiji Thukul pun hilang!

Terakhir bertemu keluarga Desember 1997 di Stasiun Tugu Yogya. Si Pon, Wani, Fajar Merrah akan balik ke Solo, Wiji Thukul antar ke stasiun. “Wis kono gek bali. Ati-ati karo anakmu," Kata2 terakhir Wiji Thukul. Dan, dia sendiri tak pernah kembali!

Wiji Thukul adalah seniman rakyat, yang memilih jalan dengan wadah politik menentang rezim Soeharto. Dia sudah tahu risikonya. Dia jalan terus!

Jika di Filipina ada Jose Rizal, sastrawan populer, pahlawan rakyat Filipina, yang dieksekusi penjajah Spanyol. Jika di Timor Lesta ada Fransisco Borja da Costa, penyair yang sajak-sajaknya jadi lagu rakyat Timor Leste yang mati ditembak tentara Indonesia. Jika di Chile, ada Victor Jara, pemusik, penyair, sutradara teater,17 Sept 1973 ditembak mati pasukan Jend Pinochet yang kudeta Allende. Jara pemusik popular, dengan lagu-lagu sarat kritik sosial. Ia selalu main gitar akustik. Di Indonesia, mungkin mirip-mirip Iwan Fals.

Menyebut nama Wiji Thukul selalu bikin dada saya sesak. Thukul, Suyat, Gilang, dulu bersama-sama di Solo. Ingat markas Mertokusuman. Sama sesaknya menyebut Herman dan Bimpet, kawan seperjuangan, serumah beberapa tahun di Surabaya, dengan bapak ibu kos Kawan Nia Damayanti.

Kalian yang tak pernah merasakan perihnya kehilangan kawan berjuang, heii...jangan sekalipun bilang itu cuma ROMANTIS !! !

Dipenjara, diculik, dibunuh, resiko itu kami sadari benar. Penjara dan penculikan itu tinggal giliran siapa. Tapi ingat kawan yang hilang diculik, yang mati ditembak, yang cacat seumur hidup, pedihnya terus melekat. Tak berkurang kendati sudah 14 tahun.

Jika Comandante Marcos terkenal dengan “Kata adalah senjata”. Saya kenang Wiji Thukul dengan “Kata-kata tak ubah realitas, tapi mempertajam realitas!”. Wiji Thukul itu istimewa, orisinil, cerdas. Tanpa tedeng aling-aling, berani. Ide-ide orisinil kerap melesak dari kepalanya. Ingat joke Wiji Thukul yang sering diceritakan ke kawan-kawan: “Yang paling adil adalah Puskesmas, karen apapun sakitnya, obatnya sama: VITAMIN! ” Atau saat Wiji Thukul kritisi LSM lingkungan yang saat itu memang menjamur: “Orang sudah sibuk berhadapan sama tentara kok kalian masih urus kupu-kupu? Padahal LSM kupu-kupu itu ya punya kawan-kawan yang dimintai duit dan LSM adiknya sendiri, Wahyu Susilo.

Ingat awal 1993, saya mahasiswa baru, sok intelek, ikut seminar. Pembicaranya juga intelek. Tiba-tiba sosok krempeng berkaus lusuh interupsi: “Ngapain bicara ndakik-ndakik (sok intelek). Rakyat butuh makan!” Saya kaget. Ini orang bicaranya enggak intelek banget. Penampilan lusuh pula! Tapi kalimat itu, keberanian itu, berdengung sepert tawon di kuping saya. Iya juga ya? Ah tapi apa pentingnya laki-laki lusuh cedal itu!

Kongres PRD 1994, di meja pembicara, suara cedal itu terdengar lagi. Jadi pemateri. Dia, Wiji Thukul. Saya terlongong-lolong dengan kata-kata ajaib dari bibir Wiji Thukul. Lugas, sederhana, membalut ide-ide yang sama sekali tidak sederhana! Referensinya anjrit gila.

Lalu kami sering ke rumah Wiji Thukul yang masih berlantai tanah. Mesin jahit dan kain jahitan berserakan. Cuma ada sepasang kursi reot. Tap perpustakaan-nya cuy! Ada Gramsci, Brecht, Marx, Tolstoy. Kebanyakan Inggris! Saya yang baru baca Gie dan Ahmad Wahib saja sudah berasa jago banget!

Ingat waktu Wiji Thukul sakit gigi, jongkok bergelung sarung di pojok perpustakaan. Kedua tangan menyangga dagu. Ia nangis gerung-gerung. Ngopo nangis, Kang? Untuku lolo/ Saya yang usil, terkikik-kikik: Untu lolo ae nangis. Gembeng ! Wiji Thukul melotot: “Sontoloyo! Metu kowe !” Sampai sekarang saya masih ingat ekspresi marah itu. Mata merah itu. Sepurane yo, Kang....

Bertahun sesudahnya, saya sering kena sakit gigi yang biadab rasanya. Pernah nangis meraung-raung di kantor. Dan saya jadi selalu ingat Wiji Thukul!

Suatu kali, masih usil lagi: Kang, mbok aku dibuatin puisi yang gak ada huruf R!/ Wiji Thukul diam. Mukanya merah. Kelak saya sadar, ia benar-benar marah. Tapi biarpun sering bikin marah dia, tiap ke rumahnya, sapaan pertama Wiji Thukul: 'Wis mangan rung?” Oh itu sapaan khas semua kawan PRD ding!

Dulu Yu Pon sering bikin puding coklat, dengan biskuit regal. Bulat berjejer. Yaawoh, itu sepert makanan sorga! *saking sering kelaperan* Kami aktivisi di Solo, seperti Imron Rosyid, Prijo Wasono alias Abu, Kelik Ismunandar , pasti masih inget sayur asem iwak gereh dan sambel terasi bikinan Yu Pon.

Tahun 2002, Wiji Thukul dapat Yap Thiam Hien Award. Diterima oleh Yu Pon. Saat itu, semua audiens berseru: “Thukul, dimana kamu???” Waktu itu di Gedung Arsip, malam-malam. Sebarisan kawan di kursi belakang, saling berpandangan. Mata kami memerah. Tak bisa ngomong apa-apa.

Pablo Neruda, penyair kiri Chile, pemenang Nobel, diplomat yang pernah tugas di Jakarta, sohib dekat Alende mati 1973, mati karena kangker prostat. Sampai kini kematiannya masih diselidiki, karena diduga ia mati diracun. Itu kasus tahun 1973. Hampir 40 th lalu. Dan Wiji Thukul, yang hilang sejak 1998, bersama belasan lainnya, tak jelas bagaimana nasibnya.

Met ultah ya Kang. Aku tau, kalau kuucapkan langsung kau pasti nolak "Ah, ulangtaon-ulangtaunan ki nggo opo!!" Moga gigimu gak seringg sakit lagi ya. http://www.beritasatu.com/nasional/68127-kenangan-lilik-hs-kawan-karib-wiji-thukul.html

Ini Puisi Karya Wiji Thukul yang Disukai Jokowi
"Saya jadi teringat, tahun 2010 lalu, Jokowi menggelar acara peringatan orang hilang. Di sana, puisi-puisi karya kakak saya (Wiji Thukul) dibacakan. Jokowi suka dengan puisi kakak saya yang berjudul 'Peringatan'," ujar Wahyu Susilo

Peringatan

oleh :Wiji Thukul

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat sembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat tidak berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

(Solo,1986)

http://nasional.kompas.com/read/2014/04/18/1749139/Ini.Puisi.Karya.Wiji.Thukul.yang.Disukai.Jokowi?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp
Sign Up for Free
SignUp for Idolbin
rss twitter facebook gplus